Selasa, 28 Agustus 2007

APLIKASI TEKNOLOGI INFORMASI DITEMPAT KERJA

Rumah sakit sebagai industri jasa dalam memberikan pelayanan terhadap pasien dan keluarga untuk mencapai tingkat pelayanan yang optimal guna memenuhi harapan pelayanan bagi pelanggan yaitu pasien dan keluarga. Dalam memberikan pelayanan yang tersebut diperlukan adanya dukungan berbagai pihak yang meliputi beberapa aspek diantaranya :

  1. Sumber daya manusia

Sumber daya manusia merupakan sumber daya yang paling utama dalam suatu instansi untuk menunjang terhadap pencapaian tujuan dari pihak perusahaan dan masyarakat sebagai pelanggan yang menjadi sasarannya.

Peningkatan pengetahuan dan pemanfaatan sumber daya manusia dapat memberikan sumbangan

  1. Keuangan

  2. Manajemen

  3. Pemanfaatan teknologi

  4. Sarana dan prasarana

  5. Dukungan masyarakat


Meningkatnya pengetahuan masyarakat tentang pelayanan kesehatan memperbesar perhatian mereka terhadap industri jasa pelayanan kesehatan. Bersamaan dengan hal itu, kalangan industri memandang jasa pelayanan kesehatan sebagai peluang bisnis yang cukup menjanjikan. Persaingan dalam industri jasa pelayanan kesehatan pun meningkat.


Kepuasan pelanggan merupakan kunci sukses memenangkan persaingan. Hal ini tentu saja tidak mudah bagi pengelola rumah sakit, mengingat pelayanan yang diberikan juga menyangkut hidup para pasien/pelanggannya. Bila terjadi ketidaksesuaian atau kesalahan dalam melaksanakan tindakan medis maka dampaknya tidak main-main, sakit yang bertambah parah, cacat tetap atau bahkan sampai pada kematian. Kepuasan pelanggan tidak hanya ditentukan oleh tindakan medis, ada banyak dimensi mutu lain yang mempengaruhi kepuasan pelanggan seperti: layanan administratif, keramahan dan ketanggapan para staf medis dan non medis, kemudahan, kecepatan & ketepatan waktu layanan, dll. Banyaknya dimensi mutu rumah sakit yang perlu diperhatikan sehingga penanganannya harus dilakukan dengan serius, cermat dan tepat.


Mutu layanan merupakan faktor penting yang dapat membentuk kepercayaan pelanggan/pasien kepada rumah sakit sehingga tercipta loyalitas mereka. Saat ini masyarakat Indonesia kurang percaya terhadap mutu layanan rumah-rumah sakit di Indonesia. Mereka yang berpenghasilan menengah keatas lebih memilih menjalankan perawatan/pengobatan diluar negeri ketimbang disini.


Mengapa harus luar negeri? Kelengkapan peralatan kedokteran, kompetensi dan kecepat-tanggapan staf medis maupun non medis, kontinuitas pelayanan, sistem pelayanan yang bagus, dan jaminan mutu yang diberikan merupakan alasan kuat mengapa masyarakat kita lebih percaya kredibilitas rumah sakit di luar negeri dan menjadikannya pilihan.

Kurangnya kegiatan public relations yang memberikan informasi mengenai keunggulan rumah sakit di sini ikut mendorong pasien untuk berobat ke luar negeri. Namun faktor penyebab yang lebih signifikan adalah masih banyak rumah sakit yang belum consumer oriented , belum memberikan kemudahan akses pelayanan bagi para pasiennya dan mutu pelayanan yang masih buruk (dokter yang sering datang terlambat, pasien harus menunggu lama untuk mendapatkan pelayanan dan perawatan, kurang responsifnya para staf medis dan non medis terhadap kebutuhan pasien, dll).


Rumah sakit kita perlu menerapkan sistem manajemen yang berorientasi pada kepuasan pelanggan. Untuk itu rumah sakit di Indonesia harus menciptakan kinerja yang unggul. Kinerja yang unggul atau Performance Excellence merupakan salah satu faktor utama yang harus diupayakan oleh setiap organisasi untuk memenangkan persaingan global, begitu juga oleh perusahaan penyedia jasa pelayanan kesehatan.


Banyak cara yang dapat dilakukan oleh para pengelola rumah sakit untuk menciptakan kinerja yang unggul diantaranya melalui mekanisme pengelolaan mutu dan pemberian pelayanan yang bagus serta tindakan medis yang akurat tentunya.


Untuk menghasilkan mekanisme pengelolaan mutu yang bagus, perusahaan perlu menerapkan metode pengukuran yang efektif untuk dapat menganalisis dan menemukan dimensi mutu 0 yang perlu diperbaiki atau ditingkatkan untuk mencapai mutu yang tinggi. Salah satu model pengukuran yang sudah dikenal luas dan terbukti secara efektif membantu keberhasilan penerapan sistem manajemen mutu adalah sistem Malcolm Baldrige National Quality Award. Malcolm Baldrige National Quality Awards (MBNQA) merupakan sistem manajemen yang sangat efektif untuk menghasilkan loyalitas pelanggan dan kinerja tinggi bila diterapkan dengan tepat.


Kriteria penilaian/pengukuran kinerja yang dimiliki oleh MBNQA juga dapat digunakan oleh industri jasa pelayanan kesehatan, kita menyebutnya Performance Excellence for Health Care based on MBNQA. Kriteria dari Performance Excellence for Health Care based on MBNQA terdiri dari 7 kategori, yaitu: Health Care Results, Patient -and Other Customer- Focused Results, Financial and Market Results, Staff and Work System Results, Organizational Effectiveness Results, Governance and Social Responsibility Results.


Dengan penerapan sistem manajemen mutu secara menyeluruh dan model pengukuran tepat maka perusahaan anda akan menjadi perusahaan kelas dunia yang siap memenangkan persaingan. (IS)


.


Quality Assurance di Rumah Sakit


Kegiatan Quality Assurance/QA (Jaminan Mutu) di rumah sakit atau jasa pelayanan kesehatan bertujuan menyediakan perawatan dan pelayanan terbaik bagi seluruh pasien.


Untuk mereka yang memiliki kontak langsung kepada pasien, memberikan perawatan dan pelayanan yang terbaik merupakan konsep nyata tentang QA. Sementara bagi mereka yang tidak memiliki kontak langsung dengan pasien, memberikan mutu pekerjaan yang baik sehingga memberikan kontribusi kepada penciptaan mutu pelayanan dan perawatan yang baik untuk para pasien menjadi konsep mereka mengenai QA.


Quality Assurance juga menyusun mekanisme untuk menjamin bahwa tujuan penerapannya tercapai. QA akan berhasil bila dalam pelaksanaannya QA menjadi aktivitas karyawan yang dilakukan rutin setiap hari. Dan penerapannya akan lebih efektif lagi bila tujuan dari QA menjadi tujuan pribadi dari setiap karyawan.


Agar dapat mentransformasikan tujuan QA menjadi tujuan pribadi maka setiap karyawan perlu memahami secara menyeluruh mengenai konsep dasar dari Quality Assurance. Konsep QA sendiri biasanya mudah diterima dan dimengerti. Namun tidak jarang juga karyawan atau management rumah sakit salah kaprah dalam pelaksanaan QA. Hal ini dikarenakan tinjauan mengenai QA seringkali overlap dengan tinjauan aktivitas lain, diantaranya dengan Riset, Risk Management, Performance Appraisal .


Berikut kami jelaskan sedikit mengenai perbedaan QA dengan Riset, Risk Management dan Performance Appraisal:


QA dan Riset


Riset bertujuan untuk menemukan pengetahuan baru, mencari bukti yang menyakinkan tentang hubungan antara satu faktor dengan faktor lain. Kesimpulan dari hasil riset tersebut berlaku pada berbagai kondisi yang sama atau sejenis, meskipun bukan merupakan kegiatan atau kondisi yang diteliti. Riset menyaratkan penggunaan teknik statistik yang tepat dan akurat.


QA mencari informasi untuk mengidentifikasi masalah dan tindakan dalam merawat dan melayani pasien pada kondisi khusus. Hasil QA tidak menyamaratakan temuan di luar kondisi yang ditinjau. Data yang digunakan harus valid, dapat dipercaya dan batas waktunya diketahui. Teknik statistik yang akurat tidak menjadi keharusan.

KONSULTASI


Pelayanan Rumah Sakit dan Akreditasi



Tanya:

Bulan lalu, saya dibawa ke rumah sakit di Jakarta Barat karena mendadak terkena serangan sakit pinggang kanan yang hebat. Anak saya membawa ke rumah sakit tersebut karena dekat dengan rumah. Saya memperoleh pelayanan di Unit Gawat Darurat yang cukup cepat, mungkin karena saya mengerang-ngerang kesakitan. Anak saya menceriterakan kemudian, sebenarnya dia terpaksa membawa saya ke rumah sakit ini karena empat tahun lalu –saat ia mendapat serangan asma dan datang ke Unit Gawat Darurat rumah sakit itu— ia baru mendapat pelayanan sekitar setengah jam kemudian, karena dokter jaga sibuk di ruangan. Untungnya serangan asmanya tidak berat.

Saya sendiri akhirnya dirawat di rumah sakit itu karena dikatakan ada batu di saluran yang menyumbat ginjal dan batu itu dapat dihancurkan menggunakan alat teropong. Setelah perawatan empat hari, saya pulang. Saya merasa seluruh pelayanan itu cukup memuaskan.

Ketika dirawat, saya ngobrol dengan perawat dan dokter jaga, diperoleh informasi bahwa rumah sakit itu enam bulan lalu telah diakreditasi. Mereka bercerita bahwa akreditasi itu menyebabkan berbagai proses kerja mengalami perbaikan, juga bertambahnya berbagai prosedur standar atau SOP. Contohnya, pelayanan di Unit Gawat Darurat di mana mereka mengukur ”response time” yaitu jumlah waktu pasien sejak di UGD sampai mendapat pelayanan medis. Gara-gara response time harus pendek maka di UGD ditempatkan dokter jaga khusus pada setiap shift kerja, sehingga memang pelayanan seperti yang saya alami menjadi cepat, beda ketika anak saya berobat empat tahun lalu.

Pertanyaan saya, apakah memang akreditasi memperbaiki proses pelayanan? Saya pikir, sikap mental petugas yang menentukan baik-buruknya pelayanan. Bila sikapnya tidak baik, tentu pelayanan mengecewakan dan sikap ini biasanya didasari atas masalah kesejahteraan, budaya rumah sakit, pengalaman kerja, dan sebagainya.. Sebenarnya apa yang dimaksud akreditasi rumah sakit?


J. Thio, Jakarta Barat



Jawab:

Pertama-tama perlu dijelaskan dulu, sesuai pertanyaan Anda yang terakhir, apa itu akreditasi rumah sakit. Akreditasi rumah sakit adalah suatu proses evaluasi terhadap suatu rumah sakit seberapa jauh rumah sakit tersebut telah memenuhi standar. Proses ini dilakukan oleh suatu badan nasional. Di Indonesia, badan itu adalah KARS (Komisi Akreditasi Rumah Sakit dan Sarana Kesehatan lainnya).

Apa saja yang dinilai atau lebih tepat diukur di rumah sakit? Banyak cara menjelaskan hal ini, yang paling mudah adalah konsep Prof. Donabedian. Ia membagi unsur-unsur di rumah sakit dalam tiga kelompok. Pertama, struktur yang meliputi fasilitas fisik, struktur organisasi, SDM, peralatan, kebijakan, SOP (Standard Operating Procedure), program kerja, dan sebagainya. Kedua adalah proses, yakni semua kegiatan pelayanan dan operasional dari staf, unit, bagian, dan sebagainya. Dan ketiga adalah outcome (hasil) yang merupakan hasil akhir atau kemajuan yang diperoleh.

Pertanyaan Anda menyiratkan suatu hal lebih besar, yaitu apakah kinerja (performance) rumah sakit tersebut meningkat. Untuk itu perlu dijelaskan bahwa penilaian kinerja rumah sakit didasarkan atas lima faktor atau indikator. Pertama, kepuasan pasien, yakni bagaimana indikator ini dari waktu ke waktu mengalami perubahan. Kedua, pelayanan medik. Jumlah indikatornya sangat banyak, antara lain indikator di bidang Gawat Darurat, Bedah, Penyakit Dalam, Anak, Radiologi, Laboratorium, dan sebagainya. Juga indikator untuk keseluruhan rumah sakit misalnya angka kematian dan angka perawatan ulang pasien.

Indikator ketiga adalah efisiensi, yakni indikator di bidang keuangan meliputi rentabilitas, likuiditas, dan profit margin. Di bidang produktivitas tempat tidur mencakup BOR (Bed Occupancy Rate), ALOS (Average Length of Stay), dan sebagainya. Keempat, kepuasan staf dan karyawan, juga merupakan indikator untuk menilai kinerja rumah sakit. Kelima, Kualitas Kesling (Kesehatan Lingkungan), terkait dengan penanganan limbah, sanitasi, pengamanan terhadap risiko keselamatan, dan lain-lain.

Kelima kelompok tersebut merupakan hal-hal yang menentukan apakah kinerja rumah sakit itu membaik atau meningkat atau sebaliknya. Melalui akreditasi, kelima kelompok unsur ini diukur apakah memenuhi standar yang berlaku atau telah ditentukan. Hasil pengukuran ini baik dalam kelompok struktur atau proses atau pun outcome akan menunjukkan rumah sakit ini sudah berkualitas atau belum. Dan bila kelima unsur ini ditangani oleh pihak manajemen rumah sakit secara komprehensif dan terintegrasi maka kualitas pelayanan akan meningkat.

Akreditasi rumah sakit di Indonesia dilakukan oleh KARS yang di masa mendatang direncanakan menjadi badan yang mandiri. Dalam akreditasi rumah sakit, rumah sakit melakukan terlebih dahulu penilaian sendiri (self assessment), dilakukan terhadap 5 bidang, yaitu administrasi manajemen, pelayanan medik, pelayanan gawat darurat, pelayanan keperawatan, dan rekam medik. Bidang-bidang ini kemudian ditambah tujuh, yakni K3 (Keselamatan Kerja, Kebakaran, Kewaspadaan bencana), pengendalian infeksi nosokomial, perinatal risiko tinggi, radiologi, laboratorium, pelayanan kamar operasi, dan pelayanan farmasi.

Sebagai surveior KARS sejak tahun 1996, saya telah berkeliling ke berbagai rumah sakit kurang lebih hampir 50 rumah sakit di Jawa, Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi untuk tugas survei dan bimbingan. Kesan yang saya peroleh rata-rata manajemen rumah sakit merasa tertolong dengan langkah-langkah yang harus dikerjakan rumah sakit agar berbagai unsur struktur dan proses didorong untuk memenuhi standar. Memang satu beban dalam rangka akreditasi rumah sakit adalah persiapan yang harus dilakukan terkadang memberatkan rumah sakit. Namun setelah akreditasi pertama maka untuk akreditasi kedua berikutnya tiga tahun kemudian, bila rumah sakit konsisten menjalankan sistem yang telah diperbaiki, maka sebenarnya tidak dibutuhkan lagi persiapan-persiapan yang khusus.

Jadi pelayanan atau kinerja rumah sakit tidak saja bergantung pada sikap mental staf seperti Anda perkirakan, tetapi lebih dari itu bergantung pada lima unsur yang saya sebutkan di atas. Mudah-mudahan penjelasan ini bermanfaat bagi Anda.


Dr. Nico A. Lumenta, K.Nefro, MM

Konsultan Ginjal-Hipertensi RS Mediros

Surveior KARS (Komisi Akreditasi RS dan Sarana Kesehatan lainnya)

Menanti Layanan dari Hati


SUATU siang di awal Januari 2004, Ny Eleonora bergegas membawa suaminya yang mengeluh batuk, sesak napas, dan kaki bengkak ke Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Internasional Bintaro. Ia langsung saja mengiyakan ketika dokter UGD menyarankan suaminya dirawat secara intensif di ruang ICU, apalagi tekanan darahnya saat itu disebutkan 200/150.


PERAWAT meminta mereka menunggu kedatangan dokter spesialis jantung untuk mendiagnosis dan menjelaskan penyakit sang suami. Dua puluh empat jam berlalu, kecemasan dan kesabaran keduanya tidak juga terjawab. Dokter spesialis yang katanya segera tiba tidak juga muncul.


Padahal, siapa pun paham bahwa pasien di ruang Unit Perawatan Intensif (ICU) tentu membutuhkan penanganan segera. Menjelang siang setelah menunggu sehari, dokter lain yang datang memeriksa menyampaikan data-data medis yang tidak mereka pahami. Itu pun setelah Ny Eleonora meminta.


Beberapa saat setelah makan siang, dokter spesialis jantung yang diharapkan memeriksa sejak sehari sebelumnya akhirnya tiba. Akan tetapi, alangkah terkejutnya mereka karena dokter yang ditunggu-tunggu itu justru berkomentar dengan nada tinggi. Menurut pengakuan Ny Eleonora, seperti dalam surat pembaca Kompas, Minggu (2/5), ia disebut sebagai istri yang kurang perhatian, sedangkan suaminya disebut tidak bisa merawat diri.


Dokter spesialis jantung itu juga memvonis suami Ny Eleonora mengalami gagal ginjal kronis dan komplikasi jantung sehingga harus menjalani cuci darah sepanjang hidup.


Kesimpulan itu berbeda setelah suaminya ditangani dokter ahli ginjal di rumah sakit lain. Diagnosisnya, suaminya memang gagal ginjal kronis, tetapi tanpa komplikasi jantung.


Sayang, surat pembaca itu tidak ditanggapi pihak rumah sakit. Hingga tulisan ini diturunkan, Rumah Sakit Internasional Bintaro (RSIB) juga tidak bersedia memberikan penjelasan. Kompas yang datang ke RSIB, Senin (11/10), memperoleh jawaban bahwa pihak manajemen sedang rapat internal. Surat tertulis dan surat elektronik untuk wawancara juga tidak dibalas. Sebelumnya, ada jawaban melalui telepon dari sekretaris direktur bahwa pihak manajemen rumah sakitlah yang akan menghubungi Kompas, meskipun kenyataannya sampai Rabu kemarin tetap tak ada kabar.


Padahal, Ketua Umum Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) dr Adib Abdullah Yahya MARS sudah mengingatkan, rumah sakit jangan diam saja atau defensif ketika dimintai verifikasi. "Berikan informasi yang jelas, apa yang terjadi," kata Adib dalam Seminar Nasional VI Persi pekan lalu.


Kisah seputar ketidakpuasan dan perlakuan yang dianggap pasien mengecewakan barangkali akan berderet panjang apabila diungkapkan satu per satu. Padahal, secuil senyuman cukup menenteramkan pasien atau keluarga pasien. Memang banyak juga kisah heroik dan menyejukkan dari rumah sakit.


Kisah sedih lain diungkapkan H Misbach Yusa Biran, ayah almarhumah Sukma Ayu. Pada sebuah tayangan infotainment, ia mengaku sedih karena tak pernah menerima senyum dari para dokter selama hampir enam bulan anaknya dirawat di rumah sakit.


Belum lagi kisah Jeny, warga Rawa Bunga, Jakarta, yang menceritakan betapa ibunya kalut ketika mengetahui kondisi ayahnya kritis di sebuah rumah sakit negeri di kawasan Jakarta Timur. Namun, upaya meminjam telepon rumah sakit untuk mengabari keluarga ditolak oleh perawat sekalipun ia berjanji akan mengganti biaya telepon. "Selain itu, sejak kritis hingga meninggal tak satu pun dokter datang memeriksa," tulis Jeny dalam surat pembaca Kompas.


KISAH rumah sakit yang cenderung kabur jati dirinya dan berubah menjadi industri kesehatan sebenarnya bukan cerita baru. Seperti umumnya di jagat bisnis profit, uang masih menjadi tolak ukur layanan yang akan diterima.


Budaya paternalistik di rumah sakit Indonesia yang membuat hubungan dokter dan pasien tidak setara diakui Adib beberapa waktu lalu. Ia berpendapat budaya seperti itu harus dikikis menjadi budaya partnership. Pasien harus dilihat sebagai mitra. "Itu kalau kita mau menyongsong liberalisasi perdagangan jasa kesehatan," kata Ketua Tim Liberalisasi Jasa Kesehatan Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) tersebut.


Pendapat senada disampaikan Direktur Rumah Sakit Mitra Internasional dr Rudy Cahyadi Susilo dalam Seminar Nasional VI Persi. Rumah sakit harus menangkap nilai-nilai yang diharapkan pasien dengan meningkatkan kualitas pelayanan, bukan pada harga. "Kemewahan lobi rumah sakit barangkali bukan harapan pasien, tetapi senyum dari dalam hati kita," katanya.


Kepedulian, itulah kata kunci yang akan membuat pasien rela menjadi pelanggan setia dan tidak "lari" ke luar negeri.


Soal banyaknya pasien Indonesia yang "lari" ke luar negeri, Menteri Kesehatan Achmad Sujudi pernah mengungkapkan, total pengeluaran untuk biaya berobat ke luar negeri setiap tahun mencapai 600 juta dollar AS.


Menurut Sujudi, akar persoalannya adalah pelayanan rumah sakit Indonesia yang tidak demokratis. Paradigma pelayanan kesehatan masih berorientasi pada dokter, bukan pasien. Bahkan, rumah sakit cenderung otoriter.


Pasien tak pernah dijelaskan tentang detail penyakit yang dideritanya serta jenis dan khasiat obat yang diminumnya. Sebagian besar dokter hanya memberi obat dan meminta, kalau tidak sembuh harap kembali berkonsultasi dengannya. Tren di negara lain, hampir semua keluhan pasien didengar secara saksama. Tidak jarang satu pasien ditangani dokter lebih dari satu jam.


Soal rasio jumlah dokter dan pasien ini, ditengarai konsultan manajemen rumah sakit dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI) Prof dr Amal C Sjaaf, sebagai kunci persoalan budaya rumah sakit yang cenderung paternalistik.


Menurut dia, pertumbuhan dokter di Indonesia tidak sebanding dengan pertumbuhan pasien. Satu dokter berbanding sekitar 6.300 pasien. Akibatnya, satu dokter spesialis bisa praktik di tiga rumah sakit sekaligus, bahkan lebih. "Selama dokter masih merasa dibutuhkan pasien seperti sekarang, selama itu pula budaya paternalistik terus tumbuh," kata dosen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan FKM UI itu.


Kondisi tersebut masih ditambah kenyataan bahwa rumah-rumah sakit terus berpacu dengan waktu untuk secepat mungkin mengembalikan modal, di antaranya dengan cara menarik para dokter yang "punya" pasien tetap. Tidak heran apabila rumah sakit kemudian lebih berorientasi pada dokter daripada pasien.


REGULASI pemerintah diyakini dapat membantu tumbuhnya budaya partnership, di antaranya menyusun undang-undang yang mengatur keuntungan rumah sakit dengan tujuan tidak mengejar "setoran", dengan memperlakukan pasien seperti komoditas. Atau, memperbolehkan dokter asing masuk ke Indonesia dengan ketentuan hanya boleh praktik di rumah sakit pendidikan. Tujuannya, menularkan keahliannya kepada dokter-dokter muda.


"Ironisnya, kita belum pernah berpikir serius berapa sebenarnya kebutuhan tenaga dokter umum, perawat, dokter spesialis dan subspesialis yang sesungguhnya," papar Amal.


Artinya, selama suplai tenaga medis masih langka dan harapan masyarakat masih tinggi, maka posisi tawar pasien cenderung lemah. Dan, kisah pahit Ny Eleonora, Jeny, dan Misbach mungkin masih akan terdengar, entah sampai kapan. (GESIT ARIYANTO)

QA dan Risk Management


Risk Management adalah sebuah proses mengidentifikasi resiko yang mungkin diterima pasien untuk kemudian mengurangi atau menghilangkannya. Perhatian Risk Management lebih pada perawatan yang dapat diterima pasien dibanding perawatan yang optimal yang mana merupakan tujuan dari QA. Untuk lebih jelasnya, berikut adalah perbedaan antara QA dengan Risk Management :


1. Motivasi dan fokus dari masing-masing tinjauan aktivitas.

2. Perhatian Risk Management adalah pada batas penerimaan si pasien terhadap perawatan yang diberikan, sementara QA adalah pada pemberian perawatan pada level yang optimal.

3. Risk Management ditujukan pada semua orang, kejadian, lingkungan, sementara QA khususnya ditujukan pada perawatan pasien

4. Risk Management memiliki spesialisasi dalam hal jaminan secara legal dan kegiatan pencegahan kerugian lainnya.

5. QA memfasilitasi kegiatan perbaikan dari mutu perawatan melalui berbagai aktivitas yang terkordinir, sementara Risk Management lebih fokus terhadap kegiatan pencegahan kerugian.


Karena banyaknya bentuk pengawasan proses untuk kegiatan Risk Management dan QA yang sama, kedua fungsi tadi sering dianggap sama. Namun perlu diingat bahwa motivasi dan fokus dari keduanya berbeda.


QA dan Performance Appraisal


Tinjauan mengenai Performance Appraisal terfokus pada apa yang dilakukan karyawan. Tinjauan tentang aktivitas ini biasanya menitikberatkan pada :


1. Seberapa baik karyawan dapat memenuhi persyaratan pekerjaannya di perusahaan

2. Seberapa profesional karyawan melaksanakan tugas sesuai dengan jabatannya dalam perusahaan.


Sementara QA lebih terfokus kepada seberapa bagus mutu perawatan dan pelayanan yang yang dihasilkan karyawan (staf medis atau non medis) dan diterima pasien. Contoh nyata yang bisa diambil misalnya : jumlah pelayanan yang telah diberikan seorang pekerja perhari bukan merupakan objek dari tinjauan QA, namun catatan mengenai keterlambatan dalam memberikan pelayanan dan alasan keterlambatannya merupakan tinjauan dari QA.


Demikian penjelasan secara singkat mengenai perbedaan Quality Assurance dengan tinjauan aktivitas lain seperti Riset, Risk Management dan Performance Appraisal. Semoga dapat memberikan pemahaman kepada anda bahwa dalam menerapkan QA, pemahaman yang menyeluruh dan tepat mengenai QA adalah langkah awal yang sangat penting dan harus dimiliki seluruh karyawan. Langkah awal ini akan membuat penerapan menjadi lebih efektif dan mudah bagi seluruh karyawan dan manajemen. (IS)




Ekonomi dunia pada dua ratus tahun yang lalu masih bersifat agraris, ciri dari ekonomi agraris adalah tanah merupakan faktor ekonomi yang paling dominan. Era agraris ini berakhir dengan ditemukannya mesin uap yang menyebabkan terjadinya revolusi industri. Kembali dunia memasuki era baru yaitu era industri, yang menjadi ciri dari era industri ini adalah modal sebagai faktor ekonomi yang paling dominan. Pada akhir abad yang lalu kembali dunia memasuki era yang baru yang biasa disebut era informasi, disini faktor ekonomi yang paling dominan berbasis pada pengetahuan dan berfokus pada informasi, dengan menguasai informasi maka organisasi akan bertahan dan berkembang di era ini.


Sistem Informasi Manajemen merupakan prosedur pemrosesan data berdasarkan teknologi informasi dan diintegrasikan dengan prosedur manual dan prosedur yang lain untuk menghasilkan informasi yang tepat waktu dan efektif untuk mendukung proses pengambilan keputusan manajemen.


Sistem Informasi Manajemen saat ini merupakan sumber daya utama, yang mempunyai nilai strategis dan mempunyai peranan yang sangat penting sebagai daya saing serta kompetensi utama sebuah organisasi dalam menyongsong era Informasi ini.


Di bidang kesehatan terutama Rumah Sakit sangat membutuhan Sistem Informasi Manajemen untuk meningkatkan kualitas pelayanan bagi masyarakat untuk menyongsong ‘Indonesia Sehat 2010’.


Diposting oleh ICS di 21:32

.

Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit


SIMRS (Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit) merupakan solusi komputerisasi sistem informasi manajemen terintegrasi untuk institusi pelayanan medis, yang ditujukan sebagai pengganti administrasi secara manual. SIMRS yang kami bangun adalah Aplikasi Berbasis Web sebagaimana di amanatkan dalam Inpres No. 3/2003 yang menerapkan konsep Open System. Selain itu, SIMRS juga menekan biaya kepemilikan dengan penggunaan sistem basis data dan sistem operasi yang bersifat Open Source dengan lisensi GNU/GPL sehingga aman dari masalah hak cipta. Hal ini sejalan dengan rekomendasi pemerintah melalui Surat Keputusan Bersama yang ditanda tangani oleh 6 Menteri yaitu; Menteri Riset dan Teknologi, Menteri Komunikasi dan Informasi, Menteri Kehakiman dan HAM, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara serta Menteri Pendidikan Nasional dalam Deklarasi IGOS (Indonesia Go Open Source) pada tanggal 30 Juni 2004.


Sebagai sebuah sistem yang berbasis web, SIMRS dapat diakses melalui internet dan bisa diimplementasikan secara Online, sehingga pasien/ keluarga pasien, antar rumah sakit dan instansi-instansi terkait lainnya bisa mengakses data dan informasi yang diperlukan kapan saja dan dari mana saja (anytime & anywhere). Dalam pengembangannya, SIMRS ini menggunakan teknologi terkini dalam hal pemrograman, basis data, dan arsitektur sistem. SIMRS didesain sebagai sebuah sistem yang bersifat modular dan dapat dikustomisasi sesuai karakteristik instansi sehingga dapat digunakan untuk berbagai lingkup layanan kesehatan, mulai skala kecil (praktek pribadi), menengah (klinik, puskesmas) hingga skala besar seperti Rumah Sakit.


Aplikasi berbasis web ini menerapkan konsep sentraslisasi sehingga Aplikasi, DataBase dan Sistem Security dipasang secara terpusat di server utama yang bisa di akses oleh semua user dengan tingkatan otorisasi yang telah ditentukan, dari komputer manapun yang terhubung ke jaringan tanpa harus menginstal sofware apapun di sisi client/user.

Berharap Peningkatan Mutu RS Lewat Badan Layanan Umum



Jumat, 21 Oktober, 2005 oleh: gklinis

Berharap Peningkatan Mutu RS Lewat Badan Layanan Umum

Gizi.net - Rumah sakit adalah ujung tombak pembangunan kesehatan masyarakat. Namun, tak sedikit keluhan selama ini diarahkan pada kualitas pelayanan rumah sakit yang dinilai masih rendah. Ini terutama rumah sakit daerah atau rumah sakit milik pemerintah.


Penyebabnya klasik, yaitu masalah keterbatasan dana. Sehingga rumah sakit (RSUD dan rumah sakit milik pemerintah) tidak bisa mengembangkan mutu layanannya, baik karena peralatan medis yang terbatas maupun kemampuan sumber daya manusia (SDM) yang rendah.


Menyadari hal tersebut, pemerintah kemudian mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 23 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (BLU). Dengan PP ini, maka status rumah sakit kini berubah menjadi BLU.


Sebagai tahap awal, pemerintah menetapkan 13 RS yang statusnya perusahaan jawatan (Perjan) menjadi BLU. Yaitu enam RS di Jakarta (RSCM, RS Fatmawati, RS Persahabatan, RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, RSAB Harapan Kita, RS Kanker Dharmais), dan masing-masing satu RS di Bandung (RS Dr Hasan Sadikin), di Semarang (RS Dr Kariadi), di Yogyakarta (RS Dr Sardjito), di Denpasar (RS Sanglah), di Makassar (RS Dr Wahidin Sudirohusodo), di Padang (RS Dr M Djamil), dan RS Dr Mohammad Hoesin di Palembang.


Pelantikan direktur utama BLU rumah sakit tersebut dilakukan oleh Menteri Kesehatan, Siti Fadilah Supari, di Jakarta, pekan lalu. Menurut Menkes, sebelum ditetapkan menjadi BLU, RS yang berstatus Perjan telah diberi kesempatan untuk melewati masa transisi selama enam bulan. Dalam masa tersebut, ada rumah sakit yang tenang-tenang saja. Namun, ada juga yang bergejolak, baik positif maupun negatif.


Keleluasaan

Dengan manajemen BLU, kata Menkes, maka sebuah RS mempunyai keleluasaan dan kelonggaran yang lebih untuk mendayagunakan uang pendapatan. ''Namun, pendapatan tersebut harus dikelola sebaik-baiknya untuk meningkatkan mutu pelayanan bagi semua pasien. Juga untuk meningkatkan kualitas SDM, mengendalikan tarif pelayanan, mengelola sarana, dan bukannya untuk menumpuk keuntungan,'' katanya.


Menkes melanjutkan, dengan manajemen yang baik, keuntungan yang cukup longgar, kesejahteraan SDM semakin meningkat, serta adanya UU Praktik Kedokteran dan UU Perumahsakitan, maka para dokter akan bekerja lebih baik. ''Sehingga diharapkan kepercayaan masyarakat terhadap dokter akan semakin meningkat. Dan akhirnya masyarakat akan mantap untuk berobat di negeri sendiri serta tidak perlu lagi ke Singapura atau Malaysia,'' tuturnya.


Senada, Dirjen Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan, Farid W Husein, menyatakan, dengan status BLU, maka RS memiliki keleluasaan untuk mengelola keuangannya. Namun, pihaknya akan selalu melakukan pengamatan terhadap kinerja rumah sakit BLU. ''Kehati-hatiannya harus tambah,'' ujarnya.


Kalau sebagai tahap awal, sebanyak 13 RS yang statusnya Perjan telah ditetapkan menjadi RS BLU, di kemudian hari semua RS akan dibawa ke arah sana. Syaratnya RS tersebut harus sehat dalam melaksanakan pekerjaannya. ''Arah BLU adalah untuk meningkatkan kualitas pelayanan RS. Yaitu bagaimana meningkatkan mutu dengan kebebasan keuangan yang dimilikinya,'' kata Farid.


Kebebasan mengelola keuangan ini diakui oleh Direktur Utama BLU RSCM, Dr dr Akmal Taher SpU (K). ''Dengan BLU kami punya cukup otonomi untuk mengelola sumber daya. Jadi, ada keleluasaan,'' katanya.


Direktur Utama BLU RS Sanglah Denpasar, dr I Gusti Lanang M Rudiartha MHA, juga mengatakan hal yang sama. ''Mudah-mudahan setelah apa yang dicanangkan, pengelolaan sumber daya lebih bagus lagi dibandingkan pada saat masih sebagai Perjan. Pengelolaan keuangan lebih leluasa. Ini yang kami harapkan. Ke depan pelayanan lebih bagus sehingga pendapatan RS juga lebih bagus,'' ungkapnya.


Penggajian proporsional

Menurut Guru Besar Fakultas Kedokteran UI, Prof Ascobat Gani, dengan adanya aturan soal BLU ini, maka manajemen rumah sakit memiliki keleluasaan dalam mengelola keuangannya. Tidak hanya itu, masalah penggajian karyawan juga bisa diatur secara lebih proporsional.


Sebelum adanya aturan tentang BLU, manajemen pengelolaan keuangan di sebuah rumah sakit sangat ketat. Akibatnya, rumah sakit tidak bisa mengembangkan diri dalam hal keuangan. Yang lebih parah, mutu layanan kepada pasien atau konsumen juga semakin menurun.



''Yang jelas manajemen rumah sakit sekarang lebih luas dalam mengelola keuangannya. Dulu ketat sekali sehingga tidak boleh pinjam uang namun tidak boleh berhenti melayani. Akibatnya mutunya jadi turun,'' katanya pada Lokakarya Nasional Kesiapan Rumah Sakit Daerah (RSUD) Menjadi BLU, yang diselenggarakan Asosiasi Rumah Sakit Daerah Seluruh Indonesia (ARSADA), di Jakarta, beberapa waktu lalu.


Menurut Ascobat, aturan yang ada di PP 23 tahun 2005 memangkas aturan-aturan yang ada sebelumnya. Justru yang itu membatasi gerak langkah RS. Dengan BLU, manajemen RS diperbolehkan meminjam uang kepada pihak ketiga untuk menutup biaya operasional. Ini bisa dilakukan jika kondisi keuangan sebuah rumah sakit benar-benar mengkhawatirkan.


Ascobat menyebut aturan di BLU ini sangat revolusioner. Tapi yang lebih penting, dengan menjadi BLU, maka pimpinan RS memiliki hak untuk mengatur penggajian karyawannya. Ini berbeda dengan aturan sebelumnya, yaitu semua karyawan mendapat gaji sama tanpa membedakan prestasi atau hasil kerjanya.


''Dengan BLU pimpinan RS bisa memberikan honor, insetif, atau bonus di luar ketentuan gaji. Dulu kan PGPS alias Pinter Goblok Pembayaran Sama. Nah, dengan BLU sekarang diatur bahwa di luar gaji boleh diberikan honor, insetif, bahkan bonus. Misalnya ketika kinerja keuangan bagus sekali sehingga ada sisa hasil usaha,'' paparnya.





Masyarakat Miskin Tetap Terjamin


Selama ini muncul kekhawatiran di masyarakat terhadap rumah skit (RS) dengan status sebagai Badan Layanan Umum (BLU). Dikhawatirkan, biaya kesehatan di RS semakin tak terjangkau oleh masyarakat miskin. Akibatnya, masyarakat miskin makin jauh dari pelayanan kesehatan yang sangat dibutuhkannya.


Menjawab kekhawatiran tersebut, Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, meminta kepada direktur rumah sakit BLU untuk benar-benar memperhatikan akses kesehatan bagi masyarakat miskin.


''Saya tidak ingin mendengar lagi adanya rakyat kecil yang terlunta-lunta ketika ingin mendapatkan pelayanan kesehatan di rumah sakit. Saya tidak mau mendengar lagi kisah rakyat kecil yang ditolak oleh rumah sakit, terutama rumah sakit pemerintah, dengan alasan apapun juga,'' katanya ketika melantik 13 direktur utama RS BLU dan sejumlah pejabat eselon II Depkes lainnya, di Jakarta, pekan lalu.


Menkes menegaskan, pemerintah saat ini menjalankan program pengobatan gratis untuk rakyat miskin di kelas tiga rumah sakit dengan mekanisme asuransi kesehatan yang dikelola PT Askes. Karena itu, Menkes mengingatkan, agar jangan sampai ada masyarakat miskin yang tidak memiliki kartu Askeskin ditolak di rumah sakit.


''Saya tekankan, adakanlah satu atau lebih petugas untuk mengurus kartu Askeskin bagi orang miskin yang belum mempunyai kartu. Jadi, tidak ada lagi alasan rumah sakit nombok karena merawat orang miskin. Sebab hal itu bisa diselesaikan dengan PT Askes,'' kata Menkes menegaskan.


Direktur Utama BLU RS Sanglah Denpasar, dr I Gusti Lanang M Rudiartha MHA, kepada Republika, mengatakan dengan status BLU, rakyat miskin tetap akan mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai.


"Masyarakat miskin sangat terbuka dengan adanya pembiayaan dari Askes miskin. Yang jelas, dengan status BLU maka sisi manajemen, pelayanan, dan sebagainya harus sudah jelas arahnya," ujarnya. ( jar )


Sumber: Republika Online - Selasa, 18 Oktober 2005

Menko Kesra: Rumah Sakit Boleh Mahal, Asal Warga Miskin Boleh Gratis Berabot!


Menteri Koordinator (Menko) Kesejahteraan Rakyat (Kesra), Aburizal Bakrie, mengatakan, biaya rumah sakit boleh mahal asalkan warga miskin bisa mendapat pelayanan secara gratis.


"Saya sudah berkunjung ke rumah sakit itu dan ketika saya tanya bagaimana nasibnya warga miskin, manajemen rumah sakit mengatakan orang miskin mendapat pelayanan gratis. Berarti tidak masalah," kata Aburizal, di Kupang, Rabu.


Terhitung 1 Januari 2007, manajemen RSUD Prof. W.Z. Johannes Kupang, satu-satunya rumah sakit milik pemerintah di Kota Kupang, ibukota Provinsi NTT akan memberlakukan tarif baru sesuai Peraturan Daerah (Perda) Nomor: 4 tahun 2006 tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan.


Tarif baru pelayanan kesehatan rawat jalan di RSUD Kupang sesuai Perda 4/2006 sebesar Rp 17.500/pasien. Terjadi peningkatan Rp12.500 dari tarif lama Rp 5.000/pasien sesuai Perda Nomor 7 Tahun 2000. Tarif baru itu lebih mahal dari dua rumah sakit swasta di Kupang yakni Rumah Sakit Tentara (RST) dan Rumah Sakit Bhayangkara (RSB) hanya Rp 15.000/pasien. Bahkan rumah Sakit Tabanan Bali hanya Rp 8.500 dan Rumah Sakit Kepanjen Malang hanya Rp 10.500/pasien rawat jalan.


Demikian pula, biaya rawat inap yang juga lebih mahal dari RSB Kupang. Perawatan Klas III di RSUD Prof W.Z. Johannes Kupang berkisar antara Rp 50.000 hingga Rp 65.000, sementara RSB Kupang hanya Rp 35.000 dan RS Tabanan hanya Rp 27.000.


Biaya rawat inap Klas II dan I pun jauh lebih mahal dari rumah sakit swasta di Kupang dan dua rumah sakit diluar NTT sebagai pembanding. Biaya rawat inap Klas II di RSUD Kupang sebesar Rp 110.000, RSB Rp 55.000 dan RST Rp 102.000. RS Tabanan Rp 36.000 dan RS Kepanjen Rp 70.000. Klas I di RSUD Kupang sebesar Rp 190.000, di RSB hanya Rp 90.000 dan RST Rp 122.500, RS Tabanan Rp 54.000 dan RS Kepanjen Rp 115.000.


Biaya rawat inap Klas Paviliun yang mencapai Rp 345.000 di RSUD Kupang, sementara di RSB hanya Rp 175.000, RST Rp 170.000, RS Tabanan Rp 100.000 dan RS Kepanjen Rp 260.000. Aburizal mengatakan, Departemen Kesehatan sudah mengingatkan manajemen rumah sakit di berbagai daerah di Indonesia agar tidak membebani warga miskin.


"Kalau manajemen RSUD Prof. W.Z. Johannes menaikan tarif dan dianggap mahal tidak menjadi persoalan sepajang pasien dari keluarga miskin tidak pungut biaya. Saya sudah tegaskan hal ini saat berdiskusi dengan direktur rumah sakit itu," ujarnya.


Ia mengatakan, warga miskin yang membutuhkan pelayanan kesehatan di rumah sakit pemerintah dapat menggunakan kartu askes miskin (askeskin) agar tidak dibebankan biaya perawatan. "Karena itu, pemerintah daerah berkewajiban memberikan kartu askeskin kepada warga miskin agar dimanfaatkan sesuai peruntukkannya," ujarnya.[bbs/an/hep]

Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit: sekedar persyaratan menuju BLU atau dapat meningkatkan kinerja?

Diselenggarakan oleh:

Departemen Kesehatan RI dan Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan FK-UGM

(course director: Hanevi Djasri)

Pendahuluan

UU BLU sudah menegaskan bahwa RS pemerintah merupakan lembaga non-for-profit yang memberikan pelayanan yang efisien dan efektif, hal ini berarti bahwa praktek-praktek manajemen yang tidak efisien dan efektif harus ditinggalkan dan mulai fokus pada profesionalisme SDM.

Dengan diterbitkannya PP no. 23 tahun 2005 yang mengatur masalah pengelolaan keuangan BLU, mulai ada titik terang untuk mulai membenahi manajemen RS sesuai dengan aturan dan persyaratan yang berlaku. Secara explisit ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh sebuah BLU, antara lain adanya standar pelayanan minimum (SPM) di RS.

Berbagai acuan dapat digunakan untuk menyusun SPM di RS, antara lain mengikuti bentuk SPM bidang kesehatan yang memiliki indikator kinerja yang sangat rinci dan mencakup seluruh aspek (47 indikator wajib dan 7 indikator sesuai kebutuhan) seperti SK Menkes No 1457/ 2003, atau mengikuti Kepmenkes No 228/2002, tentang Pedoman Penyusunan Standar Pelayanan Minimal RS yang mencakup standar penyelenggaraan pelayanan manajemen rumah sakit, pelayanan medik, pelayanan penunjang dan pelayanan keperawatan.

Berbagai RS telah mencoba menyusun SPM-nya melalui berbagai pendekatan yang berbeda, sehingga SPM yang diajukan juga berbeda dan memang hal ini dimungkinkan sesuai dengan pasal 8 PP 23 yang mengatakan bahwa ?Standar pelayanan minimum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diusulkan oleh instansi pemerintah yang menerapkan PPK-BLU?.

Namun kemudian timbul pertanyaan, apakah SPM hanya akan berakhir menjadi sekedar memenuhi persyaratan BLU atau memang benar-benar dapat menjadi faktor pendorong peningkatan kinerja RS?

Tujuan

1. Memahami pengertian berbagai pihak tentang SPM di RS

2. Berbagi pengalaman dalam menyusun SPM di RS

3. Mendiskusikan apa yang harus dilakukan untuk membuat SPM di RS dapat berperan sebagai faktor pendorong peningkatan kinerja RS

Materi dan agenda seminar

Jam

Materi

Pembicara

09:00-09:30

Pembukaan dan pengantar seminar

Laksono Trisnantoro

PMPK FK-UGM

09:30-10:15

Standar Pelayanan Minimal: pengertian dan manfaatnya dari sudut pandang regulator/pemerintah

dr. Ratna Rosita MPHM

Depkes RI

10:15-10:30

Diskusi

Moderator: Hanevi

10:30-11:00

Coffe Break

11:00-11:45

Standar Pelayanan Minimal RS: pengertian dan proses penyusunannya di RSUD Zaenal Abidin

Dr. Rindang Indayani, MKes

RSU Zainal Abidin, Banda Aceh

11:45-12:30

Standar Pelayanan Minimal RS: pengertian dan proses penyusunannya di RSUP Dokter Kariadi

drg. Farichah Hanum, MKes

RS Dokter Kariadi, Semarang

12:30-13:00

Diskusi

Moderator: Hanevi

13:00-14:00

Break makan siang

14:00-14:45

Menggunakan SPM untuk meningkatkan kinerja RS

Tjahjono Kuntjoro

PMPK FK-UGM

14:45-15:00

Diskusi

Moderator: Hanevi

Peserta yang diharapkan hadir

Pejabat dan Staf Departemen Kesehatan

Kepala Dinas Kesehatan dan staf

Direktur RS pemerintah dan staf

Akademisi, konsultan, dan pemerhati mutu pelayanan kesehatan

Tanggal dan tempat pelaksanaan

Tanggal : Rabu, 15 Februari 2006

Tempat : Ruang pertemun MMR UGM, Gedung Granadi, Kuningan, Jakarta

Biaya

Rp. 300.000,-

Sdri Ega

PMPK FK UGM

Gd. IKM baru Lt. 2 Sayap Utara

Jl. Farmako Sekip Utara Yogyakarta

Telp (0274) 549424-549425

Fax (0274) 547487

email : [EMAIL PROTECTED]

atau

Sdri. Rina/Rekha

MMR UGM Jakarta

Gd. Granadi (Depan Depkes RI Kuningan)

Jl. HR Rasuna Said Blok X-1, Kav 8 9

Jakarta Selatan

Telp/Fax (021) 021-252 2754 ext. 1241

email : [EMAIL PROTECTED]


Yahoo! Mail - Helps protect you from nasty viruses.


Archives terdapat di http://www.yahoogroups.com/group/desentralisasi-kesehatan

Situs web terkait http://www.desentralisasi-kesehatan.net






YAHOO! GROUPS LINKS


* Visit your group "desentralisasi-kesehatan" on the web.

* To unsubscribe from this group, send an email to:

[EMAIL PROTECTED]

* Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.


Mempertanyakan Pemihakan Rumah Sakit

30 January 2007

Acapkali kita disajikan berita tentang kasus malapraktik yang melibatkan tenaga kesehatan, terutama dilakukan oleh dokter, yang terjadi di berbagai rumah sakit belakangan ini. Tidak sedikit masyarakat mengeluhkan buruknya pelayanan dan manajemen rumah sakit tempatnya dirawat. Hampir semua lini pelayanan tak luput dari terjangan ketidakpuasan masyarakat, mulai dari penerimaan pertama pasien di Unit Gawat Darurat atau Poliklinik umum, pelayanan dokter dan asuhan perawatan, hingga pada masalah penebusan biaya selama perawatan dan pelayanan pasien di rumah sakit. Inilah realitas rumah sakit kita.

Belitan dana dan relatif longgarnya pengawasan terhadap operasionalisasi rumah sakit di Indonesia, menyebabkan orientasi sebagian besar RS hanya mencari keuntungan (laba) dari pasiennya. Kualitas pelayanan, tak dapat dipungkiri, berbanding lurus dengan biaya yang mesti dirogoh dari saku si sakit.


Orientasi sosial rumah sakit menjadi sulit ditemukan di tengah kompetisi ketat antar provider (penyedia) pelayanan kesehatan saat ini.



Munculnya klinik-klinik swasta menjadi salah satu pemicu meredupnya praktik perumahsakitan yang benar-benar berorientasi “menyembuhkan” pasiennya. Karena faktor dana, sering kita jumpai orang yang sakit terpaksa pulang sebelum benar-benar sembuh, atau rumah sakit tidak sanggup lagi menutupi kekurangan biaya perawatannya.


Sedikit positif perkembangan yang ditunjukkan oleh hadirnya program Asuransi Kesehatan bagi Keluarga Miskin (Askes Gakin) beberapa waktu terakhir. Banyak keluarga miskin yang menderita sakit, merasa sangat terbantu dengan adanya Askes Gakin ini. Namun pada sisi lain, tidak bisa dipungkiri pula, masih terlalu banyak warga miskin lainnya yang sedang sakit, tetapi tidak memiliki akses untuk memiliki kartu peserta Askes Gakin. Cakupan program ini masih sangat terbatas, belum menyentuh semua lapisan masyarakat.



Belum berbicara kualitas pelayanan. Banyak rumah sakit hanya dilengkapi dengan peralatan medik terbatas dengan fasilitas laboratorium yang minim. Terkadang pasien harus antri berlama-lama untuk menerima pelayanan di poliklinik RS akibat sedikitnya jumlah dokter yang bertugas. Selain itu, RS kita juga kerap masih bergelut pada “mental model” paramedik yang jauh dari harapan pasien. Sikap yang ramah dan murah senyum, ikhlas membantu pasien serta komunikasi yang melegakan, masih merupakan barang langka dijumpai.


Pada sebagian RS milik pemerintah, untuk pelayanan rawat inap, pasien dan pembesuk harus rela menikmati lingkungan RS yang kotor dan nampak tidak terawat. Sampah di sana-sini tersebar dikerubungi lalat dan tikus. Fasilitas tambahan seperti air bersih dan kamar mandi kerap sangat terbatas dan cenderung tidak diperhatikan serius kebersihan dan kesehatannya. Melihat fenomena seperti ini bagaikan kita tidak berada dalam sebuah rumah sakit saja, karena sesungguhnya RS harus dapat memperlihatkan dan mengajarkan budaya hidup bersih dan sehat kepada setiap orang yang berada di dalamnya.


Pelayanan Pasien


Rumah sakit didirikan sebagai sentral pelayanan kesehatan �"terutama kuratif dan rehabilitatif�" bagi masyarakat disekitarnya. Paradigma yang dikembangkan dalam tradisi seni pengobatan menjadi karakteristik khas yang seharusnya ada pada setiap aktivitas RS. Pasien adalah manusia yang setara kedudukannya secara fitrawi dengan dokter dan paramedik lain, sehingga relasi yang terbangun antar mereka mestinya bersifat humanis, bukan eksploitatif. Dalam konteks relasi dokter-pasien ini, berbagai ketimpangan dan ketidakpuasan selalu muncul dan dirasakan oleh kedua belah pihak.


Idealnya, dalam harapan banyak orang, ketika masuk RS kita akan mendapat pengobatan dan perawatan yang baik sehingga dapat segera sembuh dan sehat kembali. Jika pengobatan yang dilakukan oleh seorang dokter terhadap pasiennya tidak menunjukkan hasil memuaskan, maka pasien �" dalam keawamannya �" sering berpikir bahwa pelayanan RS tersebut tidak bagus. Kondisi negatif seperti ini semakin mudah tersulut jika “kesan pertama” yang ditunjukkan oleh pihak manajemen RS tidak berkenan di hati pasien yang baru masuk. Padahal, yang diharapkan selain kesembuhan pasien pada aktivitas di RS adalah kepuasan (satisfaction) yang dirasakan oleh semua pihak selama proses pengobatan dan perawatan berlangsung.


Dalam tradisi pengobatan, relasi dokter-pasien mesti memungkinkan terjadinya komunikasi manusiawi yang memberikan kesempatan kepada pasien agar lebih merdeka dan leluasa mengungkapkan perjalanan penyakitnya. Hal ini sangat dibutuhkan oleh seorang dokter agar dapat mendiagnosa penyakit yang diderita pasiennya. Komunikasi pasien-dokter hanya dapat berlangsung positif jika kondisi psiologis pasien benar-benar merasa “nyaman”. Nah, kenyamanan ketika masuk RS inilah yang menjadi permasalahan saat ini.


Pada sisi lain, bagi sebagian orang, masuk RS itu menjadi pilihan terakhir jika penyakit yang diderita sudah tidak bisa ditahan lagi. Mereka beranggapan akan sangat beresiko cepat-cepat masuk RS. Selain karena biaya yang cukup mahal, juga rentan dengan resiko terjadinya infeksi nosokomial (penularan penyakit dari RS terhadap orang-orang yang beraktivitas di dalamnya). Asumsi ini semakin diperparah jika masyarakat pernah trauma atau mengalami pengalaman “tidak mengenakkan” atas pelayanan dokter atau paramedik yang bertugas di RS tersebut. Banyak orang masuk RS ketika penyakitnya sudah sangat parah. Akibatnya penyakit pasien sulit disembuhkan dan tentunya biaya pengobatan/perawatan juga ikut membengkak.


Dalam berbagai peraturan yang menjelaskan hubungan pengobatan, hak-hak pasien dan hak-hak dokter/paramedik relatif cukup jelas dan mudah dimengerti. Hanya saja, pasien atau keluarga pasien yang masuk di RS cenderung tidak memperhatikan hal ini atau memang tidak tahu sama sekali. Untuk menyikapi hal ini, maka pihak RS melalui dokter/paramedik yang merawat pasien mestinya memberikan penjelasan dan penyadaran kepada pasien-pasiennya, terutama menyangkut hak mereka atas informasi pra pengobatan dari dokter(informed concent) dan kerahasiaan penyakit yang mereka derita.


Kenyataannya, meskipun UU Praktik Kedokteran telah diterapkan, berbagai indikasi pelanggaran atas hak pasien masih juga mencuat ke permukaan. Artinya, pihak RS, termasuk dokter dan paramedik yang bekerja di dalamnya, harus menyadari bahwa saat ini masyarakat kita perlahan semakin sadar atas hak mereka mendapatkan “pengobatan yang benar”. Karenanya, otoritas RS mesti giat memperbaiki pelayanan dan “keramahan”-nya terhadap pasien-pasien mereka.


Pemihakan RS


Tak bisa dinafikkan eksistensi sebuah RS sangat dipengaruhi oleh sejauh mana menyeimbangkan pendapatan dengan pengeluarannya. Tidak dibenarkan jika RS hanya mengejar keuntungan semata tanpa memperhatikan aspek sosial keberadaanya di masyarakat. Proporsi 30% tempat tidur untuk kelas III di setiap RS di negara ini pada prinsipnya relatif masih jauh dari memadai. Pun jumlah tersebut tidak akan menguras kas RS dalam-dalam, karena sebagian RS saat ini telah bekerja sama dengan pihak PT Askes untuk pelayanan JPS/Askes Gakin.


Aspek sosial RS sesungguhnya belum lunas terbayar hanya dengan menyediakan tempat tidur kelas III untuk pasien miskin, tetapi mesti diikuti dengan “kesungguhan” dalam memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan tidak diskriminatif. Selain itu, pemerintah mesti menegaskan konsekuensi pendirian RS agar selalu harus siap menerima masuknya pasien-pasien gawat darurat yang “tidak mampu” meskipun tidak dilengkapi dokumen miskin dari pemerintah.


Pelayanan medik di RS mestinya dilakukan dengan tidak ada perbedaan antar pasien kelas III dengan pasien kelas “tinggi” lainnya, seperti VVIP, VIP dan Kelas I. Yang seharusnya membedakan antara kelas III dengan kelas “tinggi” lainnya hanyalah faktor fasilitas tambahan dalam ruang perawatan, seperti lemari pendingin, air conditioner, televisi dan kursi-meja tamu. Dengan demikian, maka “nuansa manusiawi” dalam pelayanan pasien benar-benar dapat dirasakan oleh mereka yang, sesungguhnya tidak pernah menghendaki jatuh sakit hingga diopname di RS.


Kita mengharapkan RS yang belum mencapai “level humanis” seperti yang kita harapkan di atas, dapat segera membenahi manajemen dan menegaskan pemihakannya atas pelayanan yang tidak diskriminitif terhadap semua pasiennya. Kecuali itu, RS juga mesti secara proporsional menegakkan aspek sosial pengobatan, ketimbang aspek bisnis kapitalisnya, dengan mengutamakan pelayanan di atas urusan pembayaran uang muka.


Posted by Admin || 4:37 AM

FENOMENA PERUSAHAAN DOTCOM

Pada saat ini dalam menjalankan perusahaan diperlukan adanya upaya terhadap peningkatan kinerja perusahaan dalam upaya mempertahankan persahaan bahkan dalam upaya meningkatkan performa peruhaan, terobosan –terobosan yang dilakuan oleh pihak perusahaan dapat berupa peningkatan kualitas produksi, pemasaran, Sumberdaya manusia,dan yang lainya sesuai target yang diharapkan oleh perusaan.

Seiring dengan kemajuan jaman kita dapat melihat berbagai strategi perusahan dalam meningkatkan kinerja perusahaan seperti contohnya dalam hal pemasaran sekarang ini sudah banyak perusahaan yang melakukan pemasaran dan transaksi jual beli dengan menggunakan fasilitas teknologi electronis.

Keberhasilan Mungkin tidak banyak orang yang ingat akan kejayaan bisnis dotcom yang dianggap akan menjadi pemicu penting perubahan ekonomi dunia. Kejayaan bisnis dotcom yang dimulai pada tahun 1995 dan rontok bersamaan dengan Krisis Keuangan Asia 1998-1999 segera dilupakan orang dan menganggap bubble yang dialami perusahaan-perusahaan dotcom yang tumbuh bersama jaringan internet sebagai sedakan dalam perekonomian global.

Banyak suka dan duka yang dialami usaha dotcom, dan mereka yang selama ini bergerak di bidang usaha brick and mortar menganggap bisnis baru berbau futuristik ini tidak akan mampu bersaing dengan mereka. Sebaliknya, para wiraswasta dotcom pun sebenarnya ketika itu hanya ikut arus dan tidak memiliki fondasi bisnis yang kuat serta terarah, hanya berharap keuntungan dari derasnya serbuan perusahaan venture capital yang menanamkan modal pada perusahaan dotcom apa saja.

Ketika perusahaan dotcom berguguran karena gelembung ekonomi dan keuangan yang tidak mampu ditopang lagi, banyak yang menduga bahwa perusahaan baru yang futuristik ini tidak cocok untuk dunia sekarang yang masih dikuasai oleh cara-cara bisnis tradisional. Tidak ada yang salah dengan dugaan ini karena memang kenyataan yang berkembang memang menunjukkan usaha dotcom

Namun, di sisi lain kemajuan teknologi komunikasi informasi memberikan peluang yang sangat luas dan menjanjikan keuntungan yang luar biasa. Konvergensi teknologi dengan kehadiran ponsel yang semakin canggih, misalnya, menghadirkan jenis usaha baru yang disebut content provider yang menyediakan berbagai layanan jasa, mulai dari ringtone sampai tebak hadiah yang mencapai miliaran rupiah.

Layanan iklan Google sekarang ini, misalnya, juga menyediakan fitur yang memungkinkan diputarnya sebuah reklame selama 30 detik berkat kemajuan teknologi broadband. Iklan dengan tayangan bergerak 30 detik selama ini menjadi andalan stasiun teve dan menjadi tumpuan pendapatan yang sangat besar.

Usaha melalui Internet yang lebih populer dengan sebutan bisnis dotcom pada awal tahun 2000 lalu nampaknya masih belum sepenuhnya kembali pulih. Bahkan para pengamat masih meragukan masa depan beberapa perintis perusahaan dotcom kelas dunia yang pernah berjaya sebelumnya.Seperti perusahaan Amazon.com sebagai perintis perdagangan elektronis (e-commerce) nasibnya masih dikhawatirkan. Harga sahamnya terus merosot, sehingga kehilangan sampai 88 persen nilainya sejak harga saham perusahaan ini mencapai puncaknya 14 bulan yang lalu.


Paling tidak setengah lusin analis Wall Street merendahkan saham perusahaan retail Internet ini. Bahkan secara pedas mereka mengkritik perusahaan dotcom ini akan menghabiskan uangnya untuk bisa mendanai operasinya sampai akhir tahun ini.


Meskipun demikian, sangkaan yang juga termuat dalam harian International Herald Tribune edisi 22 Februari lalu ini dengan keras dibantah pihak Amazon. Perusahaan ini menolak perhitungan matematis para penganalisis pasar saham dengan menyebut mereka tidak akurat dan kesimpulan mereka tentang sebuah krisis likuiditas itu "bodoh".


Merosotnya saham perusahaan dotcom ini ternyata juga diiringi anjloknya saham perusahaan yang berada pada second grade Nasdaq, AS. Akibatnya perusahaan itu banyak mengurangi tenaga kerjanya, termasuk Amazon yang berusaha tetap bertahan dengan menghentikan sekitar 200 karyawannya, terutama yang berkaitan dengan layanan pelanggan.


Belakangan juga banyak dilaporkan perusahaan dotcom mengalami kemunduran, seperti harga sahamnya terus merosot sehingga banyak dilakukan pengurangan dan pemecatan karyawan.


Lihat saja CNN yang demikian terkenal harus memotong 130 pekerjaan, News Corp menggulung unit media digitalnya dengan memecat 200 pekerjanya, The New York Times memotong 17 persen pekerjaan media barunya, TheStreet. com memecat 20 persen stafnya, NBC Internet membebaskan 20 persen, CNBC. com 25 persen, Knight Ridder Inc merampingkan 16 persen.


Gelombang keruntuhan perusahaan dotcom ini bahkan diperkirakan masih belum mencapai titik terendahnya. Termasuk perusahaan dotcom di Indonesia yang baru merintis cara baru berbisnis di dunia maya ini harus menerima lecutan gelombang yang berasal dari negara maju.


Dampaknya memang tidak sedramatis di negara maju, namun dengan diakuisisinya Satunet dan Astaga!com, dua perusahaan dotcom yang sempat mengagetkan bisnis Internet di Indonesia, membuktikan adanya imbas itu. Namun, mengingat bisnis dotcom di Indonesia ini masih permulaan, kemungkinan besar pengaruhnya juga berbeda.


***


BISNIS melalui Internet yang terjadi di negara seperti Amerika Serikat sudah sama dengan bisnis lainnya, harus menghasilkan keuntungan. Jika sudah tidak menguntungkan mereka harus segera menghentikan, atau paling tidak melakukan efisiensi dengan mengurangi tenaga kerjanya dan mencari model bisnis baru yang bisa memberikan keuntungan.


"Kebanyakan perusahaan dotcom di Indonesia masih bersifat meningkatkan fisibilitas dan awareness," kata Andreas Diantoro, Country Manager Business Customer Sales Organization PT Hewlett-Packard Indonesia, usai mengikuti acara peresmian Warintek (warung informasi dan teknologi), Rabu (27/2) di Jakarta. Program Warintek 9000 merupakan kerja sama antara Kantor Menristek dengan dua perusahaan swasta PT Hewlett-Packard Indonesia dan PT Myohdotcom Indonesia.


Namun demikian, menurut Andreas, untuk bisa maju memang harus mencari model bisnis yang bisa menghasilkan keuntungan. Seperti yang dilakukan M-Web, perusahaan pay-TV di Afrika Selatan dengan mengakuisisi Satunet dan Astaga yang sangat mirip. Sementara M-Web sendiri sebelumnya juga membeli ISP (penyedia layanan jasa Internet) Cabinet, selain membangun portalnya sendiri.


"Apa yang dilakukan M-Web ini merupakan strategi untuk menghasilkan income. Kalau hanya mengandalkan portal saja, seperti Astaga yang hanya mengandalkan penghasilan dari iklan jelas tidak cukup," tambah Andreas.


Mantan Manager Strategi dan Implementasi Astaga Harry Surjadi melihat bisnis dotcom yang mulai tumbuh di Indonesia tahun lalu, hingga kini masih mencari konsep atau model. Dalam hal ini paling tidak ada dua model pengembangan perusahaan dotcom yang dilakukan, yaitu seperti Yahoo yang langsung membentuk portal dan mengarah pada layanan e-commerce atau mulai dari ISP seperti Amazone kemudian ke e-commerce.


Ia melihat ada kecenderungan portal besar akan melokal, karena masalah bahasa dan muatan lokal yang tidak mungkin ditangani sendiri. Yahoo misalnya telah melakukan dengan membuka portal lokal di negara bagian di AS, Jepang, Cina, dan Amerika Latin.


Globalisasi dengan masuknya portal besar dunia ke Indonesia misalnya bakal mengancam portal yang telah ada. Karena mereka sudah terkenal dan tidak memerlukan lagi biaya promosi atau membangun brand image, seperti yang dilakukan oleh Astaga. Namun portal lokal bisa bersaing dengan mengembangkan muatan lokal lebih banyak.


***


MODEL bisnis yang baik mengurangi kebakaran modal yang selama ini menjadi ciri banyak perusahaan dotcom. Dengan model bisnis yang tepat dan baik, beberapa dotcom Indonesia ternyata bisa survive dan terus berkiprah dengan baik.


"Yang terjadi di Indonesia memang ada beberapa yang harus meredefinisi ulang model bisnis ataupun sedikit mengerem ekspansinya. Ada juga yang sampai diakuisisi oleh perusahaan lain, mungkin beberapa ada yang harus menghentikan kegiatan usahanya," kata Eddie R Darajad dari Indoexchange.com.


Namun demikian Eddie mengingatkan, turunnya rating perusahaan dotcom maupun teknologi itu tidak sepenuhnya terjadi pada seluruh model bisnis dotcom. Karena masih banyak pula yang masih tetap dalam keadaan yang bagus, seperti layanan atau portal finansial, perjalanan dan sebagainya.


Terkoreksinya indeks Nasdaq bulan April tahun lalu menandakan investor mulai lebih selektif dan realistis dalam menilai perusahaan dotcom. "Memang ada di antaranya yang memiliki model usaha yang solid, meskipun banyak pula yang tidak," kata Eddie. Sementara terkoreksinya indeks Nasdaq belakangan ini, menurut Eddie, lebih disebabkan masalah makro-ekonomi AS saja.


Paling tidak keyakinan pengamat dan penulis teknologi informasi Dr Onno W. Purbo ini selaras dengan pendapat pengamat di atas. Kebanyakan perusahaan bisnis Internet bisa melewati fenomena runtuhnya perusahaan dotcom akhir-akhir ini karena memiliki fokus usaha yang tajam.


Indosatcom www.dagang 2000.com bekerja sama dengan www.meetchina.com memfokuskan pada fasilitasi perdagangan elektronik B2B (bukan B2C seperti kebanyakan dotcommers). Pola hybrid antara perdagangan secara real atau fisik disatukan dengan dunia cyber menjadikan konvergensi dagang yang sempurna.


LippoShop.com berbeda dengan dagang2000.com, mereka memfokuskan lebih kepada B2C dengan start awal captive market Lippo yang sudah ada. Parapak, salah seorang Komisaris LippoNet mengakui pola hybrid juga dilakukan yang ternyata menunjukkan bahwa sekitar 90 persen transaksi melalui metoda konvensional, bukan Internet.


IndoExchange.com, salah satu portal tertua Indonesia merupakan contoh sebuah dotcom yang fokus pada masyarakat industri finansial dan bursa. Informasi keuangan, berita bisnis, index saham, portfolio berbagai perusahaan menjadi transparan sehingga menarik pemain bursa berlangganan ke IndoExchange. com. Para traveller akan terpikat pada BaliOnLine indo.com. Itu merupakan contoh sukses mereka yang berkiprah di komunitasnya.


Komunitas yang fokus menjadi karakter utama model bisnis bagi perusahaan dotcom yang sukses. RadioClick.com bermitra dengan stasiun radio swasta di berbagai kota dan menggarap komunitas di radio tersebut. Pemberdayaan keberadaan komunitas menjadikan usaha win-win antara perusahaan Internet dengan komunitasnya.


***


MASUKNYA M-Web ke bisnis dotcom di Indonesia bagaimanapun merupakan fenomena yang menarik. Menurut Mardyana Djajakusuma, Vice President Marketing M-Web, usaha ini merupakan yang ketiga bagi perusahaan Afrika Selatan itu dalam memasuki pasar Asia, setelah Thailand dan Cina.


Menurut Margie, panggilan akrab Mardyana, M-Web mempunyai target akan memberikan layanan e-commerce dan penyedia layanan Internet nomor satu di Indonesia. Target ini, menurut dia, bahkan sudah tercapai saat ini, karena sekitar 70 pangsa pasar portal Indonesia telah dikuasainya dengan membeli Astaga yang merupakan portal terbesar saat ini dan Satunet.


Perusahaan yang menjadi saingan berat bagi Lippo ini selain membeli portal dan Internet cafe, juga masih berencana membeli ISP lain selain Cabinet. Semua itu dilakukan untuk mengantisipasi masuknya perusahaan dotcom raksasa, seperti Yahoo dan MSN.


M-Web menyadari Yahoo yang memiliki akses 3 juta page-view per hari masih terlalu besar bagi kedua perusahaan yang dibelinya, Astaga dan Satunet, yang masing-masing baru berkisar 750 ribu dan di bawah 500 ribu per hari. Sehingga perlu dibuat strategi yang kuat untuk menghadapi masuknya raksasa-raksasa dotcom yang bakal menjadi saingannya itu.


Ambisi M-Web untuk merajai bisnis dotcom di Indonesia ini antara lain dengan menguasai aspek Internet dan menawarkan satu paket layanan berbasis Internet, termasuk akses tanpa kabel, e-solution untuk pengembangan jaringan, fasilitas hosting. Sasaran penawarannya pada perusahaan besar yang akan mengembangkan corporate web.


Melihat antisipasi yang demikian hebat ini, maka tampaknya bisnis dotcom di tanah air ini ke depannya akan semakin semarak. Perkembangan ini akan mendorong berkembangnya bisnis lainnya, seperti jasa kurir, web developer, dan masuknya perusahaan dotcom ke pasar bursa (go public). Saat ini perusahaan dotcom lokal yang telah go public, di antaranya Myohdotcom.


Meskipun demikian tetap ada kekhawatiran, seperti yang diungkapkan Harry, bahwa perusahaan dotcom besar akan melindas perusahaan-perusahaan kecil dalam negeri. Sudah seharusnya pemerintah memberikan dukungan mulai dari sekarang untuk menghadapi persaingan keras masa mendatang.


Dukungan pemerintah, menurut Harry, seperti pembebasan pajak untuk transaksi di Internet seperti yang dilakukan AS. Selain itu juga harus dikembangkan pemanfaatan internet hingga mencapai critical mass. Seperti di Singapura saat ini setiap rumah telah memiliki minimal dua komputer. Demikian pula di tiap sekolah telah diajarkan dan disediakan fasilitas komputer.


Pemerintah juga harus bisa mendorong berkembangnya e-goverment. Dengan e-gov dapat dicapai otomatisasi di bea cukai hingga mengurangi praktek suap, akan tercapai transparansi dalam hal penawaran pengadaan barang di Internet. Adanya e-gov akan terbentuk pemerintahan yang demokratis dan bersih.


Sementara menurut Ichjar Musa, Ketua Tim Aplikasi Telematika Indonesia, e-goverment sebetulnya telah dimulai di beberapa departemen atau instansi pemerintah seperti di Departemen PU, Depkes, Depkeu, dan Bakosurtanal.


E-goverment diharapkan akan meningkatkan kualitas pelayanan langsung pada masyarakat, misalnya, dalam hal pengurusan sertifikat tanah, dan KTP, atau pembayaran PBB. Tujuan lain adalah meningkatkan produktivitas aparatur serta meningkatkan efisiensi, antara lain dalam hal administrasi kepegawaian, dan juga untuk membuka jendela transparansi.


Pengembangan e-goverment di Indonesia kendalanya pada SDM yang kurang, baik dari jumlah dan keahliannya, selain dana yang terbatas. Dalam hal ini yang harus dipersiapkan bukan hanya infrastruktur tapi juga muatannya.

2 Kebangkitan Bisnis Dotcom


René L Pattiradjawane



Kebangkitan Google


Namun, di sisi lain kemajuan teknologi komunikasi informasi memberikan peluang yang sangat luas dan menjanjikan keuntungan yang luar biasa. Konvergensi teknologi dengan kehadiran ponsel yang semakin canggih, misalnya, menghadirkan jenis usaha baru yang disebut content provider yang menyediakan berbagai layanan jasa, mulai dari ringtone sampai tebak hadiah yang mencapai miliaran rupiah.


Ketika harga saham Google Inc meningkat 11 persen pekan lalu menjadi 336,72 dollar AS di New York Stock Exchange, perusahaan yang menghasilkan mesin pencari paling besar di dunia ini menjadi sebuah fenomena baru kebangkitan usaha dotcom.


Walaupun Google melakukan berbagai diversifikasi, perusahaan yang didirikan Larry Page dan Sergey Brin tetap menjadi situs pencari (www.google.com) yang paling menarik minat orang dan lebih unggul dari dua pesaingnya, Yahoo dan Microsoft Corp.


Google sekarang tidak hanya menjadi sebuah situs pencari paling besar dan paling cepat yang tersedia di internet, tetapi menjadi sebuah fenomena baru yang secara langsung menjadi ancaman bagi media tradisional seperti surat kabar dan televisi.


Layanan iklan Google sekarang ini, misalnya, juga menyediakan fitur yang memungkinkan diputarnya sebuah reklame selama 30 detik berkat kemajuan teknologi broadband. Iklan dengan tayangan bergerak 30 detik selama ini menjadi andalan stasiun teve dan menjadi tumpuan pendapatan yang sangat besar.


Karena itu, tidak mengherankan, dalam rangka memperluas keuntungannya, Google Inc merencanakan membangun jaringan akses kecepatan tinggi nirkabel (wireless) di San Francisco secara gratis. Harapannya, dengan memberikan kemudahan untuk mengakses ke mesin pencari Google, secara teoretis orang-orang pun akan meng-klik iklan-iklan yang ada dalam situs pencari mereka.


Merencanakan untuk membeli saham minoritas di America Online (AOL) milik Time Warner Inc, Google sekarang mempekerjakan kurang dari 5.000 pegawai dan menjadi perusahaan dotcom yang menjanjikan.


Memberikan kemudahan


Memang masih ada pertanyaan apakah Google Inc akan menjadi sebuah fenomena baru kebangkitan bisnis dotcom yang sekarang ini seolah-olah ditinggalkan orang. Bulan Agustus lalu, fenomena kebangkitan bisnis dotcom sebenarnya mulai terlihat ketika Yahoo membayar 1 miliar dollar AS membeli saham mayoritas perusahaan e-commerce China Alibaba.com.


Kemajuan teknologi komunikasi informasi telah mengubah berbagai posisi bisnis brick and mortar yang masih tetap menjadi kekuatan bisnis dan sumber keuangan yang belum tertandingi. Akan tetapi, di sisi lain kehadiran usaha dotcom baru dan para content provider memang telah menjadi ancaman serius bagi media massa tradisional yang selama ini ”mengira” sebagai satu-satunya sumber informasi.


Ketika Asian Wall Street Journal, harian berbahasa Inggris paling tua di kawasan Asia Pasifik, mengumumkan pengetatan biaya operasinya dengan mengganti format menjadi ukuran tabloid, terlihat betapa ancaman bisnis dotcom dan content provider merupakan sebuah kenyataan yang tidak bisa dihindari oleh koran, majalah, dan sejenisnya.


Sumber informasi di tengah konvergensi teknologi komunikasi informasi memang telah bergeser dari koran dan televisi. Informasi mengenai kenaikan harga bahan bakar minyak atau bom Bali II akan secara cepat tersebar di jaringan internet maupun melalui SMS ke berjuta-juta orang dalam sekejap.


Untung di Indonesia para penyedia akses jaringan internet dan para operator tidak seagresif usaha sejenis di luar negeri. Dan untung juga regulator dan pemerintah masih tidak kreatif sehingga media massa tradisional masih bisa berjalan seperti sekarang ini, walaupun jejaknya sudah tidak lagi semasif masa lalu.


Salah satu keberhasilan bisnis dotcom di berbagai negara adalah karena dukungan infrastruktur dan tertatanya regulasi secara jelas. Banyak hal yang terjadi pada bisnis dotcom, dan kematangannya melalui berbagai pembelajaran dan kreativitas, memang tidak akan menggantikan toko buku atau koran, tetapi memberikan berbagai kemudahan yang tidak kita nikmati sebelumnya.

3 "EMARKETING - 50% Psikologis dan 50% Teknologi"


Oleh : Bob Julius Onggo*


Jangan bermimpi membangun bisnis internet dari nol dan berhasil apabila tidak memaksimalkan kekuatan Internet sebagai sarana pembangun brand dan pembangun kredibilitas dan kepercayaan.


Karena itu urutannya adalah E-MARKETING yg Sukses maka akan menuntun pada E-BISNIS yang sukses.


Agar inisiatif strategi E-MARKETING sukses maka diperlukan MESIN-MESIN EMARKETING (lihat di sini)yang akan membantu promosi internet yang berhasil. Mesin-mesin eMarketing berbeda dengan mesin-mesin E-Bisnis.


Informasi dan uraian ttg Mesin-mesin eMarketing yang terdapat di situs web kami adalah mesin-mesin yang sangat sederhana namun aplikatif dan suatu KEHARUSAN bagi siapapun atau korporat yang ingin memaksimalkan keberadaan situs web korporat mereka di dunia maya.


Sesuatu yang sederhana bukan berarti tidak efektif justru yang KEBENARAN adalah yang sederhana. Orang marketing melihat segala sesuatu harus di sisi yang aplikatif dan sederhana namun BERMANFAAT bagi sisi pelanggan.


Namun orang TI menganggap yang RUMIT dan njelimet adalah yang HEBAT atau COOL! namun belum tentu yang njelimet dan MAHAL bersifat aplikatif bagi calon pelanggan Anda.


Agar inisiatif strategi E-MARKETING sukses maka diperlukan MESIN-MESIN EMARKETING (lihat di sini)yang akan membantu promosi internet yang berhasil.


---

Mengenai Bob Julius Onggo dapat dilihat di:

http://www.bjoconsulting.com/bjo/index.htm


"Dotcom Indonesia 2003 - Masih Ada Hari Esok"


Oleh : Daniel Siburian*


Dear, Netter M-Web....

Karena satu dan lain hal, dengan sangat menyesal portal Mweb.co.id tidak bisa memberikan layanan konten seperti biasa, setelah selama dua tahun dua bulan menemani netter sekalian. Kami berharap, Mweb.co.id tetap berada di hati netter semua, dan tertulis dalam tinta emas sejarah internet Indonesia. Dalam waktu dekat, situs ini akan mohon pamit dari dunia maya...


Pernyataan di atas termuat di halaman utama (welcome page) situs mweb.co.id bulan November lalu. Sungguh tragis kalau kita mengingat betapa percaya dirinya mereka ketika pertama kali menjejakkan kakinya di Indonesia.


Anak perusahaan MIH Limited, yang berkedudukan di Afrika Selatan, langsung menggebrak dengan membeli tiga dotcom besar di tanah air: Astaga.com, Satunet.com dan kafegaul.com. Mengikuti jejak Astaga.com, mweb.co.id juga melakukan kampanye iklannya gede-gedean.


Walaupun telah "mohon pamit dari dunia maya" bukan berarti M-Web Indonesia kabur begitu saja. Menurut pengakuan David Burke, Presiden Direktur PT Mweb Indonesia, kepada detik.com (http://www.detikinet.com/net/2002/11/15/20021115-150656.shtml), mereka masih menyisakan 25 karyawan pada Maret 2003. Mereka inilah yang nantinya akan menjalankan bisnis mobile services dan QQ Messenger, dan tiga portal internetnya: Astaga.com, Satunet.com dan Kafegaul.com.


Mweb.co.id bukan satu-satunya dotcom besar Indonesia yang mohon pamit. Kopitime.com, yang telah mencatatkan diri di lantai bursa, juga telah menyatakan diri bangkrut. Begitu pula dengan Lippostar.com, yang hingga tulisan ini ditulis masih menyisakan persoalan dengan sebagian karyawannya. Penutupan ini mengikuti jejak saudara kandungnya, Lipposhop.com.


Penutupan situs-situs besar ini bisa dikata masih merupakan lanjutan dari jatuhnya bursa Nasdaq pada 2000. Kala itu, harga-harga saham start up tiba-tiba terbanting, kepercayaan investor menurun drastis. Dotcom Indonesia ikut kena imbasnya. Ambil contoh Astaga.com, yang dengan modal $7,5 juta AS berharap dapat meraup dana segar hingga $40 juta AS dengan listing di bursa saham (PANTAU, Tahun II Nomor 021, Januari 2002).


Impian yang urung jadi kenyataan.


Situasi serba memprihatinkan juga menimpa dotcom-dotcom lain. Sebagian di antaranya sudah berada dalam kondisi hidup segan mati tak mau. Bahkan sudah ada yang siap-siap gulung tikar.


Apakah itu berarti bisnis dotcom di Indonesia tidak prospektif lagi? Dalam hemat penulis jawabannya adalah prospek bisnis tetap ada. Masalahnya sekarang sejauh mana para pengelola dotcom menjalankan strategi bisnisnya.


Berkaitan dengan hal tersebut di atas, ada baiknya kita coba melihat apa saja langkah-langkah yang telah dilakukan para pelaku bisnis dotcom di tanah air untuk meraih pemasukan di tahun 2002 dan menyiasati pasar. Setelah itu kita akan melihat ke arah mana kira-kira bisnis ini akan bergulir tahun depan.

* * *


Pada kuartal keempat tahun ini, Detik melakukan terobosan baru dengan meluncurkan layanan "pay for content". Memakai merek dagang detikPlus (www.detikplus.com) Detik menjalin kerja sama dengan puluhan "penerbit koran, majalah, tabloid, lembaga riset, penerbit buku, novelis, cerpenis, penulis cerita bersambung dan sebagainya" dalam penyediaan kontennya dan untuk untuk mengaksesnya netter harus membayar sejumlah uang.


Untuk saat ini, tarif dipatok pada harga Rp 55.000,00 per bulan dengan kemungkinan diskon 10%-30% bila menjadi pelanggan 3-12 bulan sekaligus. Harga ini masih bisa bertambah bila netter memilih "advance modul" yang dibayar per item.


Langkah yang sama juga dilakukan Tempo Interaktif (www.tempointeraktif.com). Unit bisnis dari Tempo Group ini mengenakan iuran bulanan bila para netter mengakses versi online dari Koran Tempo dan Majalah Tempo (Indonesia dan Inggris).

Sejauh mana terobosan ini telah berhasil?


Dari perbincangan dengan seorang rekan di Detik, hingga saat ini, jumlah netter yang memanfaatkan detikPlus baru ratusan orang. Sementara untuk Tempo Interaktif, sejauh ini penulis belum mendapatkan informasi yang bisa dipercaya. Tapi hampir bisa dipastikan, nasibnya juga tidak jauh berbeda.


Terobosan bisnis lain yang dilakukan Detik adalah menyediakan layanan pemesanan tiket secara online (online ticketing). Dengan mengusung nama "Ticket Box" netter dimungkinkan untuk memesan tiket pertunjukan maupun seminar.


Mengikuti jejak Detik, Kompas Cyber Media (www.kompas.com) juga melakukan langkah serupa.


Perbedaan yang langsung terlihat ketika mengunjungi kedua situs ini adalah Ticket Box milik Detik tampak lebih informatif dibanding milik KCM.


Dotcom lain yang telah lebih dahulu memasuki lahan bisnis baru ini adalah www.karcismasuk.com dan www.aspri.net. Kalau Karcismasuk lebih condong ke pertunjukkan, Aspri mengkhususkan diri pada seminar, yang bisa diakses langsung di www.6221.net. Selain "pay for content" dan "online ticketing" dotcom Indonesia juga telah mulai memposisikan diri sebagai content provider untuk operator seluler.


Memanfaatkan booming SMS (short message service), operator seluler tampak giat mengembangkan value added service (VAS) dari SMS ini.


Layanan SMS VAS ini bisa berupa informasi berita aktual, jadwal film, acara, horoskop, logo ponsel, ring tone hingga game interaktif.

Beberapa dotcom yang telah menjalin kerja sama dengan operator seluler ini adalah M-Web Indonesia, KCM, dan Indo.com (www.indo.com).


Keuntungan yang didapat dengan menjadi content provider cukup menggiurkan. Ambil contoh M-Web Indonesia. Menurut pengakuan David Burke, 20% dari total pendapatan M-Web Indonesia berasal dari SMS VAS ini (Warta Ekonomi, No. 21/XIV/ 2 September 2002). M-Web memasuk konten untuk IM3, Satelindo dan Excelkomindo.


Di luar tiga lahan bisnis baru di atas, dotcom Indonesia juga tetap mengharapkan pemasukan dari iklan dan transaksi ecommerce. Walaupun untuk dua yang terakhir ini penulis kurang melihat adanya terobosan-terobosan kreatif dari para dotcomer untuk memancing para pengiklan dan netter memanfaatkan keunggulan kompetitif mereka.


Kebanyakan masih terpaku pada model banner tradisional.

Fenomena lain yang bisa kita lihat di tahun 2002 ini adalah munculnya kesadaran untuk bermain diceruk sempit (niche market). Kegagalan bisnis lippostar.com, kopitime.com dan mweb.co.id menjadi pelajaran berharga betapa mahal harga sebuah "megaberita" bila tidak memiliki model bisnis yang jelas. Situs "megaberita" yang tersisa tinggal detik.com dan astaga.com.


Memang peluang bisnisnya masih ada dan Tempo Interaktif serta KCM, dengan seabrek kelebihan yang ada, tetap memiliki peluang untuk menjadi pemain utama di pasar yang satu ini.

Beberapa situs yang mencoba membidik segmen pasar khusus ini adalah kafegaul.com dan rileks.com (gaya hidup dan hiburan), matamata.com dan parisvanjava.net (cityguide), mainsaham.com dan e-samuel.com (saham) serta wartajazz.com dan musickita.com (musik).


Ada pula situs yang sejak didirikan memang sudah dimaksudkan untuk menjadi situs ecommerce dalam pengertian luas. Ambil contoh 6221.net dan karcismasuk.com (online ticketing), atau glodokshop (www.glodokshop) dan bhinneka (www.bhinneka.com) yang menjual barang-barang elektronik.

* * *


Sekarang mari kita melangkah lebih lanjut, melihat sejauh mana peta bisnis dotcom di tahun mendatang, tahun 2003.

Pertama, situs-situs berita ataupun yang contextual commerce (yang mensinergikan berita dan ecommerce) belum akan meraup untung sepenuhnya dari penjualan ruang maupun transaksi ecommerce.


Mereka masih akan menggantungkan diri pada induknya atau bisnis lain. Kita bisa melihat misalnya, Detik yang masih akan tergantung pada Agrakom.


Kedua, masih berkaitan dengan yang pertama, untuk menutupi biaya operasional, situs-situs bersangkutan, baik bekerjasama dengan perusahaan induk maupun menjadi bagian dari unit usaha situs ini sendiri, akan kian gencar menawarkan e-solution kepada perusahaan-perusahaan yang dianggap potensial.


Dotcom-dotcom yang memberikan layanan e-solution ini di antaranya adalah Detik, KCM, Indoexchange (www.indoexchange.com), Rileks dan Matamata.


Ketiga, kerjasama dengan pihak ketiga untuk memperkuat konten, yang telah mulai terlihat di tahun 2002 akan menjadi tren di tahun 2003. Ini ditopang oleh munculnya situs-situs yang mengkhususkan diri pada segmen pasar tertentu, yang kian spesifik.


Ambil contoh, M-Web Indonesia yang menjalin kerja sama dengan Bali Info Iklanindo Semesta (www.paketrupiah.com), atau DetikMall, yang bekerja sama dengan Net Nusantara (www.netnusantara.com).

Keempat, walaupun Indonesia telah masuk daftar black list untuk transaksi ecommerce melalui kartu kredit, volume transaksi ecommerce tampaknya akan terus meningkat.


Mengapa? Karena dengan kemunculan internet banking, terutama kehadiran Klik BCA (www.klikbca.com), keinginan netter untuk belanja online tidak akan surut. Pengalaman penulis di Matamata.com menunjukkan bahwa penggunaan fasilitas internet banking ini terus meningkat, sementara pemakaian kartu kredit cenderung menurun. Netter lebih cenderung menggunakannya ketika melakukan transaksi belanja dengan sistem kredit.


Kelima, kue iklan untuk dotcom akan terus bertambah dan dotcom-dotcom besar akan ketiban rejeki. Ucapan terima kasih harus diberikan kepada biro-biro iklan menengah dan besar yang telah menjadi e-marketing/e-solutions, sebagai salah satu unit usaha mereka. Ogilvy, Lowe dan Cabe Rawit bisa dijadikan contoh biro iklan yang telah menjejakkan kakinya.


Pada titik ini, kreatifitas iklan pun akan terus berkembang. Netter tidak lagi hanya disuguhi model banner tradisional. Pada titik ekstrim malah sebuah produk bisa menjadi sponsor tunggal suatu situs, seperti yang dilakukan salah satu perusahaan rokok di tanah air (www.djarumsuper.com).


Berdasarkan pemaparan di atas, bisa disimpulkan bahwa bisnis dotcom di tanah air masih menjanjikan, masih ada hari esok untuk bisnis internet di Indonesia. Tutupnya dotcom-dotcom besar bukan berarti hari kiamat bagi dotcom Indonesia, tapi malah menjadi pemicu para dotcomer untuk semakin berpikir rasional, mengikuti hukum ekonomi paling elementer, yaitu hukum permintaan dan penawaran. Hukum yang di(ter)lupakan karena terlalu bermimpi meraup untung besar melalui lantai bursa.***


---

Daniel Siburian, Penulis adalah e-Business Analyst di Adelva Solutions, Content Manager Matamata.com

4 Fenomena Dotcom

Dengan berkembangnya akses & massa pengguna Internet di Indonesia, memicu perkembangan usaha di atas Internet yang kita kenal sebagai dotcom.


Kehancuran dotcom di awal tahun 2000 menjadi pelajaran bagi banyak dotcommers di dunia. Model bisnis yang baik mengurangi kebakaran modal yang selama ini menjadi ciri banyak dotcommers. Dengan model bisnis yang tepat & baik, beberapa dotcom Indonesia ternyata bisa survive dan terus berkiprah dengan baik. Detik.com dan Kompas.com merupakan contoh sukses bagi banyak dotcommers Indonesia. Media online memang menjadi primadona model dotcommers yang sukses di banyak negara.


Tentunya masih banyak dotcommers yang juga bisa survive di Indonesia dengan fokus usaha yang tajam. Indosatcom www.dagang2000.com bekerjasama dengan www.meetchina.com memfokuskan pada fasilitasi perdagangan elektronik B2B (bukan B2C seperti kebanyakan dotcommers). Pola hybrid antara perdagangan secara real / fisik di satukan dengan dunia cyber menjadikan konvergensi dagang yang sempurna. LippoShop.com berbeda dengan dagang2000.com, mereka memfokuskan lebih kepada B2C dengan start awal captive market Lippo yang sudah ada. Pola hybrid juga dilakukan yang ternyata menunjukan bahwa ~90% transaksi melalui metoda konvensional bukan Internet demikian diakui oleh Parapak salah seorang Komisaris LippoNet. APEC pada saat ini sangat aktif menginternetisasi negara APEC. E-commerce adalah salah satu yang paling gencar dengan adanya APEC High Level Symposium on E-Commerce and Paperless Trading di Beijing 9-10 February 2001.


Komunitas yang fokus menjadi karakter utama model bisnis dotcommers sukses. RadioClick.com bermitra dengan stasiun radio swasta di berbagai kota & menggarap komunitas di radio tsb. Pemberdayaan keberadaan komunitas menjadikan usaha win-win antara dotcommers dengan komunitasnya. Natnit.net menggarap komunitas WARNET di seluruh Indonesia, melalui majalahnya interaksi dilakukan. Data lengkap 1200+ WARNET yang bertambah 4-10 WARNET / hari dapat dilihat di Natnit.net. IndoExchange.com salah satu portal tertua Indonesia contoh sebuah dotcom yang fokus pada masyarakat industri finansial / bursa. Informasi keuangan, berita bisnis, index saham, portfolio berbagai perusahaan menjadi secara transparan sehingga menarik pemain bursa berlangganan ke IndoExchange.com. Bagi para traveller, turis akan sangat terpikat pada BaliOnLine indo.com. Mereka contoh beberapa dotcommers Indonesia yang sukses berkiprah di komunitasnya.


Keberhasilan para dotcommers menarik banyak usaha pendukungnya. Internet Data Center (biz.net.id) membuka peluang untuk menyimpan data dalam jumlah besar dan murah di Internet. Usaha mendata dotcommers dilakukan oleh beberapa portal seperti indopage.com, searchindonesia.com & bluebookdirectory.com.


Web programmer dan teknisi jaringan Internet menjadi keahlian yang amat dicari-cari oleh banyak perusahaan. Memang sebagian besar ilmu Internet dapat dipelajari sendiri di Internet melalui mailing list, web, manual perangkat lunak. Sialnya, kesempatan itu masih sangat terbatas bagi dua (2) juta orang Indonesia saja. Alangkah baiknya inisiatif seperti SMK plus TI (smk-ti@yahoogroups.com) yang di motori DIKMENJUR dapat dikembangkan ke jenjang sekolah lainnya baik SMP & SMU. Sekolah Tinggi Informatika (STMIK dll) tampaknya menjadi tumpuan untuk supply SDM TI. Mereka sering kali lebih siap pakai dibandingkan PTN untuk mensupply kelangkaan tenaga TI yang saat ini banyak di isi orang asing khususnya India.


Referensi :

smk-ti@yahoogroups.com)

indopage.com,

searchindonesia.com

bluebookdirectory.com.

LippoShop.com

dagang2000.com,

BaliOnLine indo.com

Daniel Siburian, Penulis adalah e-Business Analyst di Adelva Solutions, Content Manager Matamata.com

René L Pattiradjawane